Kearifan Lokal Liwa: Jaga Warisan Budaya di Kota Berbunga Lampung Barat
Liwa, ibu kota Lampung Barat yang dikenal sebagai Kota Berbunga, punya kearifan lokal yang dijunjung untuk melestarikan identitas budaya masyarakat di lereng Bukit Barisan Selatan.

Fakta Kunci
- Liwa adalah ibu kota Kabupaten Lampung Barat dengan julukan Kota Berbunga
- Berletak di lereng pegunungan Bukit Barisan Selatan
- Kearifan lokal lisan piyaliyang (cerita rakyat Lampung) masih diwariskan turun-temurun oleh masyarakat
- Tari Bedana merupakan seni tradisional yang ditampilkan dalam acara adat dan kegiatan masyarakat
- Pasar Liwa menjadi pusat perekonomian dan tempat interaksi budaya warga setempat
Lereng Bukit Barisan Selatan, Rumah Kearifan Masyarakat Liwa
Pagi tiba, udara Liwa yang sejuk khas lereng pegunungan Bukit Barisan Selatan menyambut pengunjung yang masuk ke kota ini. Sebagai ibu kota Kabupaten Lampung Barat, Liwa dikenal dengan julukan Kota Berbunga yang muncul dari banyaknya kebun bunga yang ditanam warga, mulai dari mawar, melati, hingga bunga anggrek yang banyak dijual di Pasar Liwa. Tidak hanya dikenal sebagai pusat peredaran bunga, kota ini juga menyimpan kearifan lokal yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya, yang menjadi identitas tersendiri dari kehidupan sehari-hari.
Warisan Lisan dan Seni yang Dijunjung
Salah satu kearifan lokal yang paling hidup di Liwa adalah piyaliyang, cerita rakyat Lampung yang diisahkan oleh orang tua kepada anak cucu sejak kecil. Cerita ini usually mengajarkan nilai-nilai kebaikan, keberanian, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam sekitar. Selain lisan, seni tari tradisional Bedana juga menjadi bagian penting dari budaya Liwa. Tari ini biasanya ditampilkan dalam acara adat seperti perayaan panen, penyambutan tamu kehormatan, maupun kegiatan kebersamaan warga, dengan gerakan yang menggambarkan kehidupan masyarakat petani di lereng pegunungan.
Pelestarian di Era Kontemporer 2025
Pada tahun 2025-2026, generasi muda Liwa mulai aktif berperan dalam melestarikan kearifan lokal mereka. Berbagai komunitas budaya mengadakan workshop tari Bedana dan pembacaan piyaliyang di sekolah-sekolah dasar dan menengah pertama di wilayah Liwa, agar anak muda tidak lupa dengan warisan leluhur mereka. Beberapa di antara mereka juga memadukan cerita rakyat tersebut menjadi konten digital pendek yang mudah diakses di platform media sosial, sehingga cerita tersebut bisa menjangkau anak muda yang lebih akrab dengan teknologi. Pasar Liwa yang ramai oleh pembeli bunga dan hasil pertanian lokal juga tetap menjadi tempat berkumpulnya warga, di mana cerita dan nilai-nilai kearifan lokal masih tersebar dalam percakapan sehari-hari.
Video Terkait
Tanya Jawab Singkat
Apa asal julukan Kota Berbunga untuk Liwa?
Julukan tersebut muncul dari banyaknya kebun bunga yang ditanam warga Liwa dan peredaran hasil bunga yang menjadi komoditas utama di Pasar Liwa.
Apa contoh kearifan lokal yang masih hidup di Liwa?
Beberapa kearifan lokal yang masih dijunjung adalah cerita rakyat piyaliyang, tari tradisional Bedana, dan nilai-nilai gotong royong yang diterapkan dalam kegiatan masyarakat sehari-hari.
Bagaimana letak geografis Liwa yang mempengaruhi budayanya?
Liwa terletak di lereng pegunungan Bukit Barisan Selatan, sehingga sebagian besar masyarakatnya bekerja di sektor pertanian dan perkebunan, termasuk budidaya bunga yang menjadi ciri khas kota.
Apakah ada upaya pelestarian budaya Liwa untuk generasi muda?
Pada 2025-2026, berbagai komunitas dan sekolah di Liwa mengadakan workshop seni tari, pembacaan cerita rakyat, dan kegiatan budaya lainnya untuk mengenalkan kearifan lokal kepada anak muda.